Beranda

 

             Sebagai ibu kota negara Indonesia, Jakarta memiliki populasi sekitar 10.171.000 orang (statistik pemerintah Indonesia pada tahun 2015) dan berkembang pesat sebagai pusat ekonomi dan politik. Sementara itu, dengan pengambilan berlebihan air tanah sebagai salah satu akibatnya, telah terjadi penurunan muka tanah lebih dari 2 m di bagian utara ibukota Jakarta sejak tahun 2000. Hal ini dianggap dikarenakan pengambilan air tanah berlebihan di pabrik atau gedung, disertai dengan pertumbuhan ekonomi saat ini dan konsentrasi penduduka di ibukota. Terutama, kecenderungan penduduk yang sangat besar di dataran rendah bagian utara di mana terkonsentrasi kegiatan ekonomi, dan di beberapa daerah menjadi jelas saat ada kerusakan seperti banjir air laut saat air pasang.

          Berdasarkan data dari tahun 1925 sampai 2015, laju penurunan adalah 3 hingga 4 m, dan terjadi penurunan tanah 5 cm atau lebih per tahun. Hal in merupakan tingkat penurunan yang jarang terlihat di dunia. Penurunan muka tanah terjadi dalam jangkauan yang luas termasuk pusat kota Jakarta, yang berakibat pada meningkatnya risiko banjir seperti banjir dan gelombang badai, meningkatnya kerusakan karena banjir, mengakibatkan terhambatnya kehidupan masyarakat seperti terhambatnya arus barang. Dampaknya terhadap ekonomi sangat besar. Namun, banyak pejabat administrasi tidak cukup memahami fakta ini, dan struktur organisasi tidak berkembang dengan baik dan penanggulangan terhadap penurunan tanah hampir belum dilakukan. Tidak ada harapan dalam pemberian sumber air alternatif untuk industri dan gedung, yang merupakan prasyarat untuk menerapkan pembatasan pengambilan air tanah.

          Penanggulangan terhadap penurunan muka tanah tidak hanya membutuhkan kegiatan pemantauan, tetapi juga banyak tindakan seperti pembatasan pengambilan air tanah, mengembangkan sumber air alternative dan mempromosikan langkah-langkah adaptasi. Untuk membangun suatu sistem di mana organisasi pemerintah terkait secara kooperatif mempromosikan tindakan pencegahan ini dalam satu rencana aksi, maka diperlukan langkah-langkah sebagai berikut;

1. Untuk mengusulkan langkah-langkah mitigasi yang efektif untuk menghentikan penurunan tanah dan untuk melakukan estimasi biaya secara kasar dari mitigasi tersebut,
2. Untuk menyelidiki risiko penurunan tanah dan untuk memperkirakan biaya dalam tindakan adaptasi,
3. Untuk meningkatkan kesadaran tentang tindakan pencegahan terhadap penurunan tanah di antara para pemangku kepentingan , dan
4. Untuk mempromosikan kegiatan pelaksanaan penganggulangan.
 
           Dalam situasi ini, Pemerintah Republik Indonesia (selanjutnya disebut "GOI") meminta Kerjasama Teknis Jepang, bernama "Proyek untuk Mempromosikan Penanggulangan Terhadap Penurunan Tanah di Jakarta" (selanjutnya disebut "Proyek") kepada Pemerintah Jepang, yang bertujuan untuk mempromosikan penanggulangan terhadap penurunan muka tanah di Jakarta melalui pengelolaan air tanah dan air permukaan yang terpadu.       
      

Land Subsidence Monitoring (tahun 2019)

Perkembangan wilayah Cekungan Air Tanah Jakarta yang pesat pada setiap sektor kehidupan menyebabkan pesatnya juga perkembangan pembangunan dan industri di daerah tersebut. Adanya kegiatan pembangunan dan industri yang memanfaatkan air tanah tidak pada semestinya serta pembuangan limbah hasil industri yang tidak mempertimbangkan keseimbangan lingkungan dan tidak mengikuti peraturan yang telah dibuat oleh pemerintah akan  menyebabkan penurunan kualitas air tanah pada daerah sekitar. Maka perlu dilakukan pemantauan kualitas air tanah di wilayah CAT Jakarta untuk mengetahui wilayah mana saja yang kualitas air tanahnya bagus serta selanjutnya dapat dijaga kelestariannya. Selain itu didapatkan pula informasi data lokasi air tanah yang tercemar sehingga dapat dijadikan database awal untuk melakukan konservasi air tanah.

Maksud dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk memperoleh data kualitas air tanah di CAT Jakarta yang selanjutnya akan diolah menjadi suatu informasi air tanah yang spesifik dan tematik.

Tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah agar informasi air tanah ini dapat menjadi dasar penyusunan zona konservasi air tanah dan bahan pertimbangan dalam pengelolaan air tanah di CAT Jakarta.

1. Pengamatan lapangan [peta lokasi] [hasil pemantauan]

2. Pengujian Laboratorium [peta sampling] [hasil laboratorium]

3. parameter pengujian [link]

 

Wilayah Cekungan Air Tanah Jakarta merupakan daerah dengan tipologi sistem akuifer yang mempunyai potensi air tanah yang baik. Akuifer yang berada pada daerah – daerah pematang pantai umumnya memiliki potensi air yang melimpah karena berada pada sistem akuifer dengan litologi seperti pasir. Pengambilan air tanah untuk keperluan masyarakat sehari-hari serta kebutuhan industri harus sesuai dengan kuantitas air tanah pada daerah tersebut, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar seperti kekurangan air dan terjadinya amblasan tanah (land subsidence) karena  pengambilan air yang berlebihan. Selain itu dampak dari pengambilan air yang tidak sesuai (berlebihan) dengan kuantitas air pada suatu wilayah akan menyebabkan terjadinya krisis air pada wilayah tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan kuantitas air tanah untuk dapat mengetahui kondisi muka air tanah akibat pengambilan air tanah serta untuk mengetahui potensi dari air tanah di wilayah Cekungan Air Tanah Jakarta.

Maksud dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk memperoleh data kuantitas air tanah di CAT Jakarta yang selanjutnya akan diolah menjadi suatu informasi air tanah yang spesifik dan tematik.

Tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah agar informasi air tanah ini dapat menjadi dasar penyusunan zona konservasi air tanah dan bahan pertimbangan dalam pengelolaan air tanah di CAT Jakarta.

Lokasi Pemantauan Kuantitas Air Tanah CAT Jakarta

Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (DKI) sebagai salah satu kota besar sekaligus pusat pemerintahan di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat terutama dalam bidang infrastruktur.Akan tetapi dengan pembangunan yang semakin meningkat menimbulkan konsekuensi negatif, salah satunya terjadinya penurunan muka lahan (land subsidence). Oleh sebab itu, perkembangan yang sekarang terjadi sebaiknya didukung juga oleh pemanfaatan berbagai ilmu yang berkaitan. Sebagai contoh pemanfaatan ilmu geologi teknik dalam pembangunan infrastruktur. Pesatnya perkembangan di Jakarta menyebabkan kebutuhan air untuk keperluan masyarakat sehari-hari serta kebutuhan industri semakin meningkat. Namun pemakaian yang tidak sesuai dengan kuantitas dan kualitas air tanah pada daerah tersebut, menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar seperti kekurangan air dan terjadinya amblasan tanah (land subsidence) karena  pengambilan air yang berlebihan. Selain itu dipengaruhi pula oleh factor kompaksi alamiah batuan karean diwilayah CAT Jakarta bagian Utara didominasi oleh litologi yang belum terkompaksi dengan baik. DItambah dengan banyaknya gedung bertingkat yang berpengaruh juga terhadap laju penurunan tanah secara lokal. Oleh karena itu perlu melakukan pemantauan penurunan tanah untuk mengetahui tingkat penurunan muka tanah di CAT Jakarta.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh data ketinggian muka tanah di CAT Jakarta yang selanjutnya akan diolah menjadi informasi geologi yang spesifik dan tematik.

Tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah agar informasi penurunan muka tanah dapat menjadi dasar pengelolaan air tanah dan tata guna lahan di wilayah CAT Jakarta.

 

 

Lokasi pengukuran permukaan tanah dengan GPS Geodetik

Pengamatan data kualitas dan kuatitas air tanah secara berkala melalui sistem automatic water level  record (AWLR) yang mengunakan teknologi telemetry.

1. Lokasi sumur pantau [link]

2. Logger data sumur pantau [link]

3. Grafik kedalaman muka air tanah [link]

Pemgeboran Inti (Log Bore) untuk mengetahui deatil batuan di bawah permukaan tanah

Lokasi pemgeboran inti (link)